} -->

INSAN BIASA

Pages

  • HOME
  • AGAMA
  • FAKTA MENARIK
  • KISAH BENAR
  • CERITA TERKINI
  • ABOUT ME

widget

Taubat Nasuha



Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.

Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."

Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 "Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah: 222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: "SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."

Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133, "Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."

Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat Nasuha", yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".

Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan brejanji untuk tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, "Apakah penyesalan itu taubat?", "Ya", kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah). Amr bin Ala pernah mengatakan: "Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya".

Di bulan pengampunan, Ramadhan yang "Syahrul Maghfirah" ini adalah saat yang tepat untuk kita bertaubat. Bagi yang sudah bertaubat mari memperbarui taubatnya dan yang belum taubat mari bergegas kepada ampunan Allah. 10 hari kedua bulan Ramadhan merupakan masa maghfirah (ampunan) sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Abu Haurairah "Ramadhan, awalnya Rahmah, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya dibebaskan dari api neraka" (H.R. Ibnu Huzaimah).
teruskan membaca
Posted by Syed 0 comments
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Bacaan Dalam Solat Dan Maknanya



Doa Iftitah
Innii wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wamaa ana minal musyrikiin. Inna salaati wa nusukii wa mahyaayaa wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalahu wa bizdaalika umirtu wa ana minal muslimin.

MAKSUD: Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menjadikan langit dan bumi, dengan keadaan suci lagi berserah diri; dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya semata-mata bagi Allah, Tuhan Semesta alam. Tidak ada sekutu baginya, demikian aku diperintahkan, dan aku adalah termasuk kedalam golongan orang-orang yang berserah diri.

Ta’awwudz
A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim

MAKSUD: Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan setan yang terkutuk.

Al Fatihah dan Ayat Al-Quran
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi rabbil’aalamin Arahmaanirrahiim Maaliki yawmiddiin Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin Ihdinash shiraathal mustaqiim Shirathal ladziina an’amta alaihim gahiril maghdhuubi’alaihin waladh dhaalliin Aaamiin

MAKSUD: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang memelihara sekalian Alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Yang merajai hari pembalasan Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu saja kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus Jalan mereka yang Engkau beri ni’mat, bukan jalan mereka yang engkau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Kabulkanlah permohonan kami, ya Allah!

Wal ashri innal insaana lafii khusrin illaladziina ‘aamanu wa’amilus shaalihaati watawaashaw bil haqqi watawaashaw bis shabri (QS)

MAKSUD: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh serta mereka yang berwasiat pada jalan kebenaran dan mereka yang berwasiat pada ketabahan.”

Ruku
Subhaana rabbiyal azhim (3x) (”Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung“)
atau
Subhaanakallahumma rabbanaa wa bihamdika allaahummaghfirlii (Maha suci Engkau ya Allah, ya Tuhan Kami, dengan memuji Engkau ya Allah, ampunilah aku)

I’tidal
Sami’allaahu liman hamidah. Rabaanaa walakal hamdu. (Maha mendengar Allah akan pujian orang yang memuji-Nya. Ya Tuhan kami, untuk-Mu lah segala puji.)
atau
“Mil-ussamaawaati wa mil ul ardhi wa mil-umaa syi’ta min sya-in ba’du” (Untuk-Mu lah segala puji sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki.)

Sujud
Subhaana rabbiyal a’la (3x) (Mahasuci Tuhanku Yang Maha Tinggi)
atau
Subhaanakallaahumma rabbanaa wa bihamdika Allaahummaghfirlii (Mahasuci Engkau ya Allah, ya Tuhan kami, dengan memuji Engkau ya Allah, ampunilah aku)

Duduk Diantara Dua Sujud
Allaahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii, wahdinii, warzuqnii (Ya Allah, ampunilah hamba, kasihanilah hamba, cukupilah hamba, tunjukilah hamba, dan berilah hamba rizki.)
atau
Rabbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii, wa’afinii, wa’fu’annii. (Wahai Tuhanku, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rizki, tunjukilah aku, sehatkanlah aku, dan maafkanlah segala kesalahanku.)

Duduk Tahiyyat
At tahiyyaatu lillaah, wash shalawaatu waththayibaatu
Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Assalaamu’alainaa wa’ala ibaadillahis shaalihiin
Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa’alaa aali Muhammadin, kamaa shallaita ‘alaa
Ibraahim wa’alaa aali Ibrahim, wa baarik ‘alaa Muhammadin, kama baarakta ‘alaa Ibrahiima wa’alaa aali Ibraahima, fil ‘aalamiina innaka hamiidun majiid.

MAKSUD:
Semoga kehormatan untuk Allah, begitu pula segala do’a dan semua yang baik-baik.
Salam sejahtera untukmu wahai para Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya.
Salam sejahtera untuk kami dan untuk para hamba Allah yang saleh
Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya
Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berilah berkat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia.

Memberi Salam
Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh (Salam sejahtera untukmu, rahmat Allah dan berkat-Nya.)
teruskan membaca
Posted by Syed 0 comments
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

UBAT PENYAKIT MALAS



Maksudnya : “Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemahuan dan malas, aku berlindung kepada-Mu daripada sifat penakut dan kedekut, aku berlindung kepada-Mu daripada tekanan hutang dan kezaliman manusia.”
teruskan membaca
Posted by Syed 0 comments
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

kenapa kita berdoa menghadapkan telapak tangan kearah langit


Karena itu saat kita berdoa dengan menghadapkan telapak tangan ke arah langit adalah karena langit sebagai kiblat kita dalam berdoa, bukan karena langit sebagai tempat bagi Allah. Sebagaimana saat kita shalat menghadapkan tubuh kita ke arah ka’bah, bukan berarti bahwa Allah berada di dalam ka’bah tapi karena ka’bah adalah kiblat kita dalam shalat.

Berikut ini kita kutip beberapa pendapat ulama Ahlussunnah dalam penjelasan bahwa langit adalah kiblat dalam berdoa.

1. al-Imam Abu Manshur al-Maturidi, Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, dalam salah satu karyanya berjudul [Kitab al-Tauhid, h. 75-76], menuliskan sebagai berikut: “Adapun menghadapkan telapak tangan ke arah langit dalam berdoa adalah perintah ibadah. Dan Allah memerintah para hamba untuk beribadah kepada-Nya dengan jalan apapun yang Dia kehendaki, juga memerintah mereka untuk menghadap ke arah manapun yang Dia kehendaki. Jika seseorang berprasangka bahwa Allah di arah atas dengan alasan karena seseorang saat berdoa menghadapkan wajah dan tangannya ke arah atas, maka orang semacam ini tidak berbeda dengan kesesatan orang yang berprasangka bahwa Allah berada di arah bawah dengan alasan karena seseorang yang sedang sujud menghadapkan wajahnya ke arah bawah lebih dekat kepada Allah. Orang-orang semacam itu sama sesatnya dengan yang berkeyakinan bahwa Allah di berbagai penjuru; di timur atau di barat sesuai seseorang menghadap di dalam shalatnya. Juga sama sesatnya dengan yang berkeyakinan Allah di Mekah karena Dia dituju dalam ibadah haji”.

2. al-Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (w 505 H) dalam kitab [Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 1, h. 128] menuliskan sebagai berikut: “Adapun mengangkat tangan ketika berdoa kepada Allah dengan menghadapkan telapak tangan tersebut ke arah langit adalah karena arah langit kiblat doa. Dalam pada ini terdapat gambaran bahwa Allah yang kita mintai dalam doa tersebut adalah maha pemiliki sifat yang agung, maha mulia dan maha perkasa. Karena Allah atas setiap segala sesuatu maha menundukan dan maha menguasai”.

3. al-Imam Al-Hafizh Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam menjelaskan perkataan Imam al-Ghazali di atas dalam karya fenomenalnya berjudul [Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 5, h. 34-35] menuliskan: “Jika dikatakan bahwa Allah ada tanpa arah, maka apakah makna mengangkat telapak tangan ke arah langit ketika berdoa? Jawab: Terdapat dua segi dalam hal ini sebagaimana dituturkan oleh al-Thurthusi.

Pertama:

Bahwa hal tersebut untuk tujuan ibadah. Seperti halnya menghadap ke arah ka’bah dalam shalat, atau meletakan kening di atas bumi saat sujud, padahal Allah Maha Suci dari bertempat di dalam ka’bah, juga Maha Suci dari bertempat di tempat sujud. Dengan demikian langit adalah kiblat dalam berdoa.

Kedua:

Bahwa langit adalah tempat darinya turun rizki, wahyu, rahmat dan berkah. Artinya dari langit turun hujan yang dengannya bumi mengeluarkan tumbuh-tumbuhan. Langit juga tempat yang agung bagi para malaikat (al-Mala’ al-A’la). Bila Allah menentukan suatu perkara maka disampaikannya kepada para malaikat tersebut dan kemudian mereka sampaikan kepada penduduk bumi. Demikian pula arah langit adalah tempat diangkatnya amalan-amalan yang saleh. Sebagaimana di langit tersebut terdapat beberapa nabi dan tempat bagi surga -yang berada di atas langit ke tujuh- yang merupakan puncak harapan. Karena langit itu sebagai tempat bagi hal-hal yang diagungkan tersebut di atas, termasuk pengetahuan qadla dan qadar, maka titik konsen dalam praktek ibadah di arahkan kepadanya”.

Pada bagian lain dalam kitab yang sama, Al-Hafizh al-Zabidi berkata: “Langit dikhusukan dalam berdoa agar tangan diarahkan kepadanya karena langit-langit adalah kiblat dalam berdoa, sebagaimana ka’bah dijadikan kiblat bagi orang yang shalat di dalam shalatnya. Tidak boleh dikatakan bahwa Allah berada di arah ka’bah” [Itthaf as-Sadah al-Muttaqin, j. 5, h. 34-35].

Masih dalam kitab yang sama al-Zabidi juga berkata: “Adapun mengangkat tangan ketika meminta dan berdoa ke arah langit karena ia adalah kiblat dalam berdoa, sebagaimana ka’bah merupakan kiblat shalat dengan menghadapkan badan dan wajah kepadanya. Yang dituju dalam ibadah shalat dan yang dipinta dalam berdoa adalah Allah, Dia Maha suci dari bertempat dalam ka’bah dan langit. Dalam pada ini al-Nasafi berkata: Mengangkat tangan dan menghadapkan wajah ketika berdoa adalah murni merupakan ibadah, sebagaimana menghadap ke arah ka’bah di dalam shalat, maka langit adalah kiblat berdoa sebagaimana ka’bah adalah kiblat dalam shalat” [Itthaf as-Sadah al-Muttaqin, j. 2, h. 104].
teruskan membaca
Posted by Syed 0 comments
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

BERDOA



"Berdoalah kepada Ku, nescaya akan Ku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina!

AL-MUKMIN, AYAT 60
teruskan membaca
Posted by Syed 0 comments
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

KATA - KATA DARI SYED QUTB

"SAYA PERGI KE TIMUR DAN MELIHAT BANYAK NEGARA ISLAM.TETAPI SAYA TIDAK DAPAT MELIHAT ISLAM DALAM NEGARA TERSEBUT.SAYA PERGI PULA KE BARAT.DI BARAT SAYA DAPAT MELIHAT ISLAM DENGAN JELAS WALAUPUN IANYA BUKANLAH SEBUAH NEGARA ISLAM." renungkan kata2 tersebut...
teruskan membaca
Posted by Syed 0 comments
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْن

sesungguhnya sembahyangku ibadatku , hidupku dan matiku hanya untuk Allah semesta alam.
teruskan membaca
Posted by Syed 0 comments
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

unique stats
Heroes Paradise

WAKTU SOLAT

aSsAlAmUaLa!KuM..AhLaN wAsAhLaN..

Loading...

smile today~

Loading...

Followers

 

get this [close]

Blog Archive

  • ▼  2011 (19)
    • May (2)
    • June (2)
    • September (2)
    • October (6)
    • November (7)
  • ►  2012 (8)
    • January (1)
    • March (7)
  • ►  2013 (2)
    • April (2)

nasyid


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com
Awesome Inc. theme. Powered by Blogger.